naufalinles

Bullying di Sekolah dan Upaya Meminimalisir

by on Mei.28, 2009, under Artikel

Sampai saat ini, masih sering kita dengar dan kita baca di media massa, juga kita saksikan di TV bahwa di beberapa sekolah terjadi praktik bullying. “Ma …, Radit nggak masuk sekolah yach, pusing kepalaku’‘, kata Radit kepada mamanya sesaat sebelum berangkat sekolah. Hari-hari dan minggu berikutnya, masih saja mengeluh seperti itu. Dan anehnya, keluhan ini muncul setiap mendekati waktu berangkat sekolah. Keadaan tersebut, sudah berjalan kurang lebih dua minggu. Radit mulai menjadi malas masuk sekolah. Meskipun sudah diantar kedua orangtuanya sampai ke halaman sekolah, tidak lama setelah mereka pergi Radit pun ikut pergi alias ngeloyor ke luar sekolah. Dan puncaknya, ia menolak untuk berangkat atau pun masuk sekolah.

Mama Radit jadi bertanya-tanya, ada apa dengan anakku? Ingatannya melayang jauh kebelakang, dan menemukan bahwa Radit yang sekarang duduk di kelas sepuluh dari sebuah SMA favorit di daerah Surabaya, dahulu adalah anak yang rajin dan tidak bermasalah. Akhirnya, mama Radit tersadar bahwa anaknya pernah cerita tentang teman-temannya di sekolah, tentang prilaku mereka yang sering minta uang kepadanya. Radit juga mengatakan, jika ia tak memberi, maka ia diancam akan dipukul ramai-ramai. Ternyata, di zaman modern seperti ini, di sebuah sekolah favorit yang sangat mengedepankan disiplin, anaknya tidak luput dari bullying, bahkan ia telah menjadi korbannya.

Menurut Republika (koran Nasional), bullying di sekolah sudah terjadi sejak puluhan tahun silam tetapi mendapat sorotan media massa baru sekitar lima tahun terakhir. Istilah yang digunakan juga beragam. Dalam bahasa pergaulan, sering ada istilah perploncoan, atau juga senioritas. Kegiatan bullying di kebanyakan sekolah, seringkali dilakukan atau melibatkan sekelompok siswa yang tergabung dalam sebuah geng, dan saat ini keberadaan geng tidak pandang jenis kelamin atau tidak harus para siswa, siswi-pun terkadang memiliki geng. Kecenderungan aktivitas geng siswa maupun siswi, ingin diakui keberadaannya. Dan hanya untuk sebuah eksistensi, mereka bisa melakukan tindakan yang kurang terpuji. Misalnya, mau menang sendiri dan kurang menghargai teman di luar kelompoknya, sering usil kepada temannya, mulai dari tindakan yang dianggap remeh seperti menyembunyikan barang milik temannya dan dikembalikan lagi, sampai dengan benar-benar diambil dan masuk katagori kriminal, mencium paksa, meraba bagian tubuh yang sensitif, malak, bahkan main tonjok teman yang bukan anggota gengnya.

Pelaku bullying mulai dari; teman, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman yang ada di sekitar sekolah. Lokasi kejadiannya, mulai dari; ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tapi justru menjadi tempat yang menakutkan dan membuat trauma.

Kita yakin, bahwa di beberapa sekolah sudah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir bullying di lingkungannya masing-masing. Tetapi kita juga masih sangsi, dan menduga bahwa masih banyak praktek bullying terjadi di dunia pendidikan kita. Sebagai bukti adalah survei yang dilakukan oleh LSM Plan Indonesia dan Yayasan Sejiwa pada 2008 di tiga kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta menemukan bahwa sekitar 67 persen dari 1.500 pelajar yang dijadikan responden pernah mengalami bullying di sekolahnya. Beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk meminimlisir bullying, antara lain; penegakan tata tertib di sekolah, pemberian kesadaran kepada siswa bahwa mereka sangat terikat dengan HAM, juga memberi pengetahuan dan cara-cara memberantas bullying, Meski yang sering terjadi, sekolah baru menyadarinya saat ada kejadian bulliying dan dilaporkan ke pihak mereka. Barangkali inilah, yang menjadikan masyarakat beranggapan bahwa sekolah terkesan melakukan pembiaran terhadap praktik-praktik bullying yang terjadi di lingkungan mereka. Ke depan, kita sangat berharap sekolah terbebas dari praktek-praktek bullying, siswa bisa belajar tanpa rasa takut, mereka betah di sekolah dan benar-benar menikmati proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Mudah-mudahan begitu seterusnya. Semoga!

Beberapa Tip’s yang bisa kita lakukan, saat mengalami bullying antara lain;

1. Mencoba untuk mengabaikan dan segera pergi atau menghindar.

2. Jika dalam posisi aman, maka katakan kepada pelaku untuk menghentikan prilakunya.

3. Memberitahu seseorang yang kita percayai, dan melaporkan kejadian tersebut kepada guru, wali kelas dan atau BP di sekolah.

4. Melaporkan kepada wakil kepala sekolah bidang Kesiswaan, juga orang tua kita.

:, ,
3 comments for this entry:
  1. Joan Parker

    Thanks for posting, I really enjoyed your latest post. I think you should post more frequently, you obviously have natural ability for blogging!

  2. Chibi Miku

    Sebenarnya saya juga korban dari bully di sekolah sejak sd-sma, tapi sejak masuk muhammadiyah aku mulai berpikir untuk menghadapinya, memang hal yang paling penting adalah keberanian dan percaya diri pada diri sendiri jika kita tidak bisa menghadapinya dan hanya berdiam diri sambil ketakutan, maka orang yang membully kita akan semakin kesenangan, hal yang paling bagus adalah melaporkannya kepada pihak sekolah atau orang tua, tidak usah takut2 atau malu untuk melaporkannya karena ini demi kebaikan diri sendiri.

  3. Alien

    Lebih baik hukuman yang tegas seperti,memanggil orang tua murid yang melakukan bullying atau mungkin hukumannya melakukan lebih banyak tugas atau pr agar tidak diulang lagi.

Leave a Reply

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...